Order Now
Teh nDeso Supporting Small Holder Tea Farmers

News

Inisiatif Karbon di Sektor Teh Sangat Menjanjikan

19 Maret 2024
#

Fenomena pemanasan global semakin mengkhawatirkan dan masyarakat dunia dituntut untuk mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK). Intergovernmental Panel on Climate Change (2023) dalam laporan sintesisnya memperingatkan bahwa pemanasan global pada 2011 – 2020 telah mencapai 1,1oC dan akan melampaui batas 1,5oC jika tidak ada upaya penurunan emisi GRK yang drastis.

Keseriusan negara-negara di dunia untuk menangani perubahan iklim sebagaimana tercantum dalam Perjanjian Paris harus segera dibuktikan. Dalam kerangka tersebut, perdagangan karbon berkembang pesat sebagai solusi krisis iklim berbasis pasar yang dapat mengisi celah pembiayaan, serta memfasilitasi transfer pengetahuan dan teknologi.

Indonesia melalui Nationally Determined Contribution (NDC) berkomitmen untuk mengurangi emisi di lima sektor prioritas, salah satunya di sektor pertanian. Meskipun sektor pertanian rentan terdampak perubahan iklim, namun sektor pertanian juga memiliki peran dalam upaya penurunan emisi GRK melalui praktik pertanian rendah karbon.

Dalam hal ini, teh merupakan salah satu jenis komoditas yang mempunyai kemampuan untuk mengurangi konsentrasi emisi di atmosfer. FAO menyebutkan teh sebagai komoditas yang cocok untuk bertransformasi menuju produksi rendah karbon (FAO, 2022). Tanaman tahunan, seperti teh, dapat menyerap dan menyimpan lebih banyak karbon dibandingkan jenis tanaman pertanian semusim. Karbon akan tetap tersimpan dalam biomassa tanaman dan bahan organik tanah selama tidak ditebang dan terurai. Selain itu, budidaya teh tidak membutuhkan pengolahan lahan secara intensif sehingga tidak merusak struktur karbon yang tersimpan di dalam tanah.

Sebagai komoditas dengan reputasi yang baik, teh mempunyai peluang untuk membangun rantai nilai yang berkelanjutan. Pengembangan proyek karbon dengan teh sebagai vegetasi utama memberikan keuntungan yang menjanjikan, baik dari segi pelestarian lingkungan hidup maupun nilai tambah ekonomi bagi pelaku usaha perkebunan teh.

Perkebunan teh Indonesia memiliki peluang besar untuk berkontribusi dalam agenda global pengurangan emisi GRK. Salah satunya dari segi lahan. Meski area perkebunan teh nasional telah berkurang drastis dari 150.972 hektar pada 2001 menjadi 102.078 hektar pada 2021, namun Indonesia mempunyai perkebunan teh terluas kelima di dunia (BPS, 2022; FAO, 2023).

Selain itu, memperbaiki praktik budidaya teh juga dapat mengurangi emisi GRK. Misalnya dengan optimalisasi lahan, pengelolaan agroinput, pengolahan tanah minimum, hingga pemanfaatan lahan kritis. Salah satu studi di India menemukan bahwa rata-rata kebun teh dapat menyerap karbon hingga 27,3 ton CO2 per hektar per tahun (Raj Vable, 2023).

Peluang tersebut juga didukung oleh meningkatnya permintaan kredit karbon dan komitmen emisi nol bersih perusahaan yang telah mendorong ekspansi pasar karbon. Coherent Market Insights memprediksi bahwa nilai pasar karbon global akan setara dengan US$ 2.407,8 miliar pada 2027. Lebih dari 1.850 perusahaan menyampaikan komitmen emisi nol bersih pada 2022 (Kompas.id, 2023).

Inisiatif karbon di sektor teh ini dapat mendukung keberlanjutan sektor teh Indonesia. Tidak hanya menjaga kelestarian lingkungan, inisiatif karbon juga memberdayakan masyarakat setempat dan menambah pendapatan keluarga petani teh melalui perdagangan karbon.